Minggu, 25 Januari 2009

aseprahmatsman1kawali

A.Pengertian Evaluasi Pembelajaran

Sesungguhnya, dalam konteks penilaian ada beberapa istilah yang digunakan, yakni pengukuran, assessment dan evaluasi. Pengukuran atau measurement merupakan suatu proses atau kegiatan untuk menentukan kuantitas sesuatu yang bersifat numerik. Pengukuran lebih bersifat kuantitatif, bahkan merupakan instrumen untuk melakukan penilaian. Unsur pokok dalam kegiatan pengukuran ini, antara lain adalahsebagai berikut:

1).tujuan pengukuran,

2).ada objek ukur,

3).alat ukur, (

4).proses pengukuran,

5).hasil pengukuran kuantitatif.

Sementara, pengertian asesmen (assessment) adalah kegiatan mengukur dan mengadakan estimasi terhadap hasil pengukuran atau membanding-bandingkan dan tidak sampai ke taraf pengambilan keputusan. Sedangkan evaluasi secara etimologi berasal dari bahasa Inggeris evaluation yang bertarti value, yang secara secara harfiah dapat diartikan sebagai penilaian. Namun, dari sisi terminologis ada beberapa definisi yang dapat dikemukakan, yakni:

a).Suatu proses sistematik untuk mengetahui tingkat keberhasilan sesuatu.

b).Kegiatan untuk menilai sesuatu secara terencana, sistematik dan terarah berdasarkan atas tujuan yang jelas.

c).Proses penentuan nilai berdasarkan data kuantitatif hasilpengukuran untuk keperluan pengambilan keputusan.

Berdasarkan pada berbagai batasan 3 jenis penilaian di atas, maka dapat diketahui bahwa perbedaan antara evaluasi dengan pengukuran adalah dalam hal jawaban terhadap pertanyaan “what value” untuk evaluasi dan “how much” untuk pengukuran. Adapun asesmen berada di antara kegiatan pengukuran dan evaluasi. Artinya bahwa sebelum melakukan asesmen ataupun evaluasi lebih dahulu dilakukan pengukuran

Sekalipun makna dari ketiga istilah (measurement, assessment, evaluation) secara teoretik definisinya berbeda, namun dalam kegiatan pembelajaran terkadang sulit untuk membedakan dan memisahkan batasan antara ketiganya, dan evaluasi pada umumnya diawali dengan kegiatan pengukuran (measurement) serta pembandingan (assessment).

Evaluasi merupakan salah satu kegiatan utama yang harus dilakukan oleh seorang guru dalam kegiatan pembelajaran. Dengan penilaian, guruakan mengetahui perkembangan hasil belajar, intelegensi, bakat khusus, minat, hubungan sosial, sikap dan kepribadian siswa atau peserta didik. Adapun langkah-langkah pokok dalam penilaian secara umum terdiri dari:

(1)perencanaan,

(2)pengumpulan data,

(3)verifikasi data,

(4)analisis data, dan

(5)interpretasi data.

Penilaian hasil belajar pada dasarnya adalah mempermasalahkan, bagaimana pengajar (guru) dapat mengetahui hasil pembelajaran yang telah dilakukan. Pengajar harus mengetahui sejauh mana pebelajar (learner) telah mengerti bahan yang telah diajarkan atau sejauh mana tujuan/kompetensi dari kegiatan pembelajaran yang dikelola dapat dicapai. Tingkat pencapaian kompetensi atau tujuan instruksional dari kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan itu dapat dinyatakan dengan nilai

A.Tujuan dan Fungsi Evaluasi

Dalam konteks pelaksanaan pendidikan, evaluasi memiliki beberapa tujuan, antara lain sebagai berikut:

1).Untuk mengetahui kemajuan belajar siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran dalam jangka waktu tertentu.

2).Untuk mengetahui efektivitas metode pembelajaran.

3).Untuk mengetahui kedudukan siswa dalam kelompoknya.

4).Untuk memperoleh masukan atau umpan balik bagi guru dan siswa dalam rangka perbaikan.

Selain fungsi di atas, penilaian juga dapat berfungsi sebagai alat seleksi, penempatan, dan diagnostik,guna mengetahui keberhasilan suatu proses dan hasil pembelajaran. Penjelasan dari setiap fungsi tersebut adalah:

a).Fungsi seleksi. Evaluasi berfungsi atau dilaksanakan untuk keperluan seleksi, yaitu menyeleksi calon peserta suatu lembaga pendidikan/kursus berdasarkan kriteria tertentu.

b).Fungsi Penempatan. Evaluasi berfungsi atau dilaksanakan untuk keperluan penempatan agar setiap orang (peserta pendidikan) mengikuti pendidikan pada jenis dan/atau jenjang pendidikan yang sesuai dengan bakat dan kemampuannya masing-masing.

c).Fungsi Diagnostik. Evaluasi diagnostik berfungsi atau dilaksanakan untuk mengidentifikasi kesulitan belajar yang dialami peserta didik, menentukan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kesulitan belajar, dan menetapkan cara mengatasi kesulitan belajar tersebut.

B.Penilaian Berbasis Kelas

Penilaian Berbasis Kelas (PBK) merupakan suatu proses pengumpulan, pelaporan, dan penggunaan informasi tentang hasil belajar siswa dengan menerapkan prinsip-prinsip penilaian berkelanjutan, otentik, akurat, dan konsisten dalam kegiatan pembelajaran di bawah kewenangan guru di kelas. PBK mengidentifikasi pencapaian kompetensi dan hasil belajar yang dikemukakan melalui pernyataan yang jelas tentang standar yang harus dan telah dicapai disertai dengan peta kemajuan belajar siswa dan pelaporan. Bila selama dekade terakhir ini keberhasilan belajar siswa hanya ditentukan oleh nilai ujian akhir (EBTANAS/UAN), maka dengan diberlakukannya PBK hal itu tidak terjadi lagi. Naik atau tidak naik dan lulus atau tidak lulus siswa sepenuhnya menjadi tanggung jawab guru (sekolah) berdasarkan kemajuan proses dan hasil belajar siswa di sekolah bersangkutan. Dalam hal ini kewenangan guru menjadi sangat luas dan menentukan. Karenanya, peningkatan kemampuan profesional dan integritas moral guru dalam PBK merupakan suatu keniscayaan, agar terhindar dari upaya manipulasi nilai siswa.

PBK menggunakan arti penilaian sebagai “assessment”, yaitu kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh dan mengefektifkan informasi tentang hasil belajar siswa pada tingkat kelas selama dan setelah kegiatan pembelajaran. Data atau informasi dari penilaian di kelas ini merupakan salah satu bukti yang digunakan untuk mengukur keberhasilan suatu program pendidikan. PBK merupakan bagian dari evaluasi pendidikan karena lingkup evaluasi pendidikan secara umum jauh lebih luas dibandingkan PBK. (Lihat gambar 2).

Gambar 8.1: PBK sebagai bagian dari evaluasi

PBK mencakup kegiatan pengumpulan informasi tentang pencapaian hasil belajar siswa dan pembuatan keputusan tentang hasil belajar siswa berdasarkan informasi tersebut. Pengumpulan informasi dalam PBK dapat dilakukan dalam suasana resmi maupun tidak resmi, di dalam atau di luar kelas, menggunakan waktu khusus atau tidak, misalnya untuk penilaian aspek sikap/nilai dengan tes atau non tes atau terintegrasi dalam seluruh kegiatan pembelajaran (di awal, tengah, dan akhir). Di sekolah sering digunakan istilah tes untuk kegiatan PBK dengan alasan kepraktisan, karena tes sebagai alat ukur sangat praktis digunakan untuk melihat prestasi siswa dalam kaitannya dengan tujuan yang telah ditentukan, terutama aspek kognitif.

Bila informasi tentang hasil belajar siswa telah terkumpul dalam jumlah yang memadai, maka guru perlu membuat keputusan terhadap prestasi siswa:

1).Apakah siswa telah mencapai kompetensi seperti yang telah ditetapkan?

2).Apakah siswa telah memenuhi syarat untuk maju ke tingkat lebih lanjut?

3).Apakah siswa harus mengulang bagian-bagian tertentu?

4).Apakah siswa perlu memperoleh cara lain sebagai pendalaman (remedial)?

5).Apakah siswa perlu menerima pengayaan (enrichment)?

6).Apakah perbaikan dan pendalaman program atau kegiatan pembelajaran, pemilihan bahan ajar atau buku ajar, dan penyusunan silabus telah memadai?

Pada pelaksanaan PBK, peranan guru sangat penting dalam menentukan ketepatan jenis penilaian untuk menilai keberhasilan atau kegagalan siswa. Jenis penilaian yang dibuat oleh guru harus memenuhi standar validitas dan reliabilitas, agar hasil yang dicapai sesuai dengan apa yang diharapkan. Untuk itu, kompetensi profesional bagi guru merupakan persyaratan penting. PBK yang dilaksanakan oleh guru, harus memberikan makna signifikan bagi orang tua dan masyarakat pada umumnya, dan bagi siswa secara individu pada khususnya, agar perkembangan prestasi siswa dari waktu ke waktu dapat diamati (observable) dan terukur (measurable). Di samping itu, dengan dilaksanakannya PBK diharapkan dapat:

a).Memberikan umpan balik bagi siswa mengenai kemampuan dan kekurangannya, sehingga menumbuhkan motivasi untuk memperbaiki prestasi belajar pada waktu berikutnya;

b).Memantau kemajuan dan mendiagnosis kesulitan belajar siswa, sehingga memungkinkan dilakukannya pengayaan dan remediasi untuk memenuhi kebutuhan siswa sesuai dengan perkembangan, kemajuan dan kemampuannya;

c).Memberikan masukan kepada guru untuk memperbaiki program pembelajarannya di kelas apabila terjadi hambatan dalam proses pembelajaran;

d).Memungkinkan siswa mencapai kompetensi yang telah ditentukan, walaupun dengan kecepatan belajar yang berbeda-beda antara masing-masing individu;

Memberikan informasi yang lebih komunikatif kepada masyarakat tentang efektivitas pendanaan, sehingga mereka dapat meningkatkan partisipasinya di bidang pendidikan secara serius dan konsekwen.

Prinsip-prinsip PBK

Sebagai bagian dari kurikulum berbasis kompetensi, pelaksanaan PBK sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor dan komponen yang ada di dalamnya. Namun demikian, guru mempunyai posisi sentral dalam menentukan keberhasilan dan kegagalan kegiatan penilaian. Untuk itu, dalam pelaksanaan penilaianharus memperhatikan prinsip-prinsip berikut:

1).Valid

PBK harus mengukur obyek yang seharusnya diukur dengan menggunakan jenis alat ukur yang tepat atau sahih (valid). Artinya, ada kesesuaian antara alat ukur dengan fungsi pengukuran dan sasaran pengukuran. Apabila alat ukur tidak memiliki kesahihan yang dapat dipertanggungjawabkan, maka data yang masuk salah sehingga kesimpulan yang ditarik juga besar kemungkinan menjadi salah.

2).Mendidik

PBK harus memberikan sumbangan positif pada pencapaian hasil belajar siswa. Oleh karena itu, PBK harus dinyatakan dan dapat dirasakan sebagai penghargaan untuk memotivasi siswa yang berhasil (positive reinforcement) dan sebagai pemicu semangat untuk meningkatkan hasil belajar bagi yang kurang berhasil (negative reinforcement), sehingga keberhasilan dan kegagalan siswa harus tetap diapresiasi dalam penilaian.

3).Berorientasi pada kompetensi

PBK harus menilai pencapaian kompetensi siswa yang meliputi seperangkat pengetahuan, sikap, dan ketrampilan/nilai yang terefleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Dengan berpijak pada kompetensi ini, maka ukuran-ukuran keberhasilan pembelajaran akan dapat diketahui secara jelas dan terarah.

4).Adil dan obyektif

PBK harus mempertimbangkan rasa keadilan dan obyektivitas siswa, tanpa membeda-bedakan jenis kelamin, latar belakang budaya, dan berbagai hal yang memberikan kontribusi pada pembelajaran. Sebab ketidakadilan dalam penilaian, dapat menyebabkan menurunnya motivasi belajar siswa, karena merasa dianaktirikan.

5).Terbuka

PBK hendaknya dilakukan secara terbuka bagi berbagai kalangan (stakeholders) baik langsung maupun tidak langsung, sehingga keputusan tentang keberhasilan siswa jelas bagi pihak-pihak yang berkepentingan, tanpa ada rekayasa atau sembunyi-sembunyi yang dapat merugikan semua pihak.

6).Berkesinambungan

PBK harus dilakukan secara terus-menerus atau berkesinambungan dari waktu ke waktu, untuk mengetahui secara menyeluruh perkembangan siswa, sehingga kegiatan dan unjuk kerja siswa dapat dipantau melalui penilaian.

7).Menyeluruh

PBK harus dilakukan secara menyeluruh, yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik serta berdasarkan pada strategi dan prosedur penilaian dengan berbagai bukti hasil belajar siswa yang dapat dipertanggungjawabkan kepada semua pihak.

8).Bermakna

PBK diharapkan mempunyai makna yang signifikan bagi semua pihak. Untuk itu, PBK hendaknya mudah dipahami dan dapat ditindaklanjuti oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Hasil penilaian hendaknya mencerminkan gambaran yang utuh tentang prestasi siswa yang mengandung informasi keunggulan dan kelemahan, minat dan tingkat penguasaan siswa dalam pencapaian kompetensi yang telah ditetapkan.

Selain harus memenuhi prinsip-prinsip umum penilaian, pelaksanaan PBK juga harus memegang prinsip-prinsip khusus sebagai berikut:

Apapun jenis penilaiannya, harus memungkinkan adanya kesempatan yang terbaik bagi siswa untuk menunjukkan apa yang mereka ketahui dan pahami, serta mendemonstrasikan kemampuan yang dimilikinya; Setiap guru harus mampu melaksanakan prosedur PBK dan pencatatan secara tepat prestasi yang dicapai siswa.

Keunggulan PBK

Penilaian Berbasis Kelas (PBK) merupakan salah satu komponen dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Penilaian ini dilaksanakan oleh guru secara variatif dan terpadu dengan kegiatan pembelajaran di kelas, oleh karena itu disebut penilaian berbasis kelas (PBK). PBK dilakukan dengan pengumpulan kerja siswa (portofolio), hasil karya (produk), penugasan (proyek), kinerja/penampilan (performance), dan tes tertulis (paper and pencil). Guru menilai kompetensi dan hasil belajar siswa berdasarkan level pencapaian prestasi siswa.Karenanya, PBK dapat dikatakan sebagai bentuk penilaian yang paling komprehensip.

Harus disadari oleh semua pihak, bahwa sesungguhnya guru itulah yang paling mengetahui kemampuan atau kemajuan belajar siswa, bukan kepala sekolah, pengawas, apalagi pejabat struktural di Departemen atau Dinas Pendidikan. Sebab, gurulah yang sehari-hari berkomunikasi dan berinteraksi dengan siswa di dalam kelas dan di lingkungan sekolah. Dengan demikian, PBK yang memberi kewenangan sangat leluasa kepada guru untuk menilai siswa merupakan suatu keunggulan agar diperoleh hasil belajar yang akurat sesuai dengan kemampuan siswa yang sebenarnya. Selain itu, di dalam PBK guru tentu tidak dapat menilai sekehendak hatinya, melainkan harus menyampaikan secara terbuka kepada siswa untuk menyepakati bersama kompetensi yang telah dicapai oleh siswa dan standar nilai yang diberikan oleh guru.

Pelaksanaan PBK

Penilaian dilakukan terhadap hasil belajar siswa berupa kompetensi sebagaimana yang tercantum dalam KBM setiap mata pelajaran. Di samping mengukur hasil belajar siswa sesuai dengan ketentuan kompetensi setiap mata pelajaran masing-masing kelas dalam kurikulum nasional, penilaian juga dilakukan untuk mengetahui kedudukan atau posisi siswa dalam 8 level kompetensi yang ditetapkan secara nasional.

Penilaian berbasis kelas harus memperlihatkan tiga ranah yaitu: pengetahuan (koknitif), sikap (afektif), dan keterampilan (psikomotorik) Ketiga ranah ini sebaikanya dinilai proposional sesuai dengan sifat mata pelajaran yang bersangkutan. Sebagai contoh pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (Al-Quran, Aqidah-Akhlaq, fiqh, dan tarikh) penilaiannya harus menyeluruh pada segenap aspek kognitif, afektif dan psikomotorik,dengan mempertimbangkan tingkat perkembangan siswa serta bobot setiap aspek dari setiap materi. Misalnya kognitif meliputi seluruh mata pelajaran, aspek afektif sangat dominan pada materi pembelajaran akhlak, PPkn, seni. Aspek psikomotorik sangat dominan pada mata pelajaran fiqh, membaca Al Quran, olahraga, dan sejenisnya. Begitu juga halnya dengan mata pelajaran yang lain, pada dasarnya ketiga aspek tersebut harus dinilai.

Hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian adalah prinsip kontinuitas, yaitu guru secara terus menerus mengikuti pertumbuhan, perkembangan dan perubahan siswa. Penilaiannya tidak saja merupakan kegiatan tes formal, melainkan juga:

1).Perhatian terhadap siswa ketika duduk, berbicara, dan bersikap pada waktu belajar atau berkomunikasi dengan guru dan sesama teman;

2).Pengamatan ketika siswa berada di ruang kelas, di tempat ibadah dan ketika mereka bermain;

3).Mengamati siswa membaca Al-Qur an dengan tartil (pada setiap awal jam pelajaran selama 5 – 10 menit)

Dari berbagai pengamatan itu ada yang perlu dicatat secara tertulis terutama tentang perilaku yang ekstrim/menonjol atau kelainan pertumbuhan yang kemudian harus diikuti dengan langkah bimbingan. Penilaian terhadap pengamatan dapat digunakan observasi, wawancara, angket, kuesioner, sekala sikap dan catatan anekdot (anecdotal record).

A.Teknik Penilaian Proses dan Hasil Belajar

Untuk keperluan evaluasi diperlukan alat evaluasi yang bermacam-macam, seperti kuesioner, tes, skala, format observasi, dan lain-lain. Dari sekian banyak alat evaluasi, secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua, yakni alat tes dan nontes. Khusus untuk evaluasi hasil pembelajaran alat evaluasi yang paling banyak digunakan adalah tes. Oleh karena itu, pembahasan evaluasi hasil pembelajaran dengan lebih menekankan pada pemberian nilai terhadap skor hasil tes, juga secara khusus akan membahas pengembangan tes untuk meningkatkan validitas dan reliabilitas tes sebagai alat evaluasi.

1).Teknik Tes

Tes secara harfiah berasal dari bahasa Prancis kuno “testum” artinyapiring untuk menyisihkan logam-logam mulia. Tes adalah serangkaian pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, kecerdasan, kemampuan, atau bakat yang dimiliki oleh sesesorang atau kelompok.

Berdasarkan definisi tersebut, dapat dijelaskan bahwa tes merupakan alat ukur yang berbentuk pertanyaan atau latihan, dipergunakan untuk mengukur kemampuan yang ada pada seseorang atau sekelompok orang. Sebagai alat ukur dalam bentuk pertanyaan, maka tes harus dapat memberikan informasi mengenai pengetahuan dan kemampuan obyek yang diukur. Sedangkan sebagai alat ukur berupa latihan, maka tes harus dapat mengungkap keterampilan dan bakat seseorang atau sekelompok orang.

Tes merupakan alat ukur yang standar dan obyektif sehingga dapat digunakan secara meluas untuk mengukur dan membandingkan keadaan psikis atau tingkah laku individu.Dengan demikian berarti sudah dapat dipastikan akan mampu memberikan informasi yang tepat dan obyektif tentang obyek yang hendak diukur baik berupa psikis maupun tingkah lakunya, sekaligus dapat membandingkan antara seseorang dengan orang lain.

Jadi dapat disimpulkan bahwa tes adalah suatu cara atau alat untuk mengadakan penilaian yang berbentuk suatu tugas atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan oleh siswa atau sekelompok siswa sehingga menghasilkan nilai tentang tingkah laku atau prestasi siswa tersebut. Prestasi atau tingkah laku tersebut dapat menunjukkan tingkat pencapaian tujuan intruksional pembelajaran atau tingkat penguasaan terhadap seperangkat materi yang telah diberikan dalam proses pembelajaran, dan dapat pula menunjukkan kedudukan siswa yang bersangkutan dalam kelompoknya.

Dalam kaitan dengan rumusan tersebut, sebagai alat evaluasi hasil belajar, tes minimal mempunyai dua fungsi, yaitu:

a).Untuk mengukur tingkat penguasaan terhadap seperangkat materi atau tingkat pencapaian terhadap seperangkat tujuan tertentu.

b).Untuk menentukan kedudukan atau perangkat siswa dalam kelompok, tentang penguasaan materi atau pencapaian tujuan pembelajaran tertentu.

Fungsi (a) lebih dititikberatkan untuk mengukur keberhasilan program pembelajaran, sedang fungsi (b) lebih dititikberatkan untuk mengukur keberhasilan belajar masing-masing individu peserta tes.

2).TesMenurut Tujuannya

Dilihat dari segi tujuannya dalam bidang pendidikan, tes dapat dibagi menjadi:

a).Tes Kecepatan (Speed Test)

Tes ini bertujuan untuk mengevaluasi peserta tes (testi) dalam hal kecepatan berpikir atau keterampilan, baik yang bersifat spontanitas (logik) maupun hafalan dan pemahaman dalam mata pelajaan yang telah dipelajarinya. Waktu yang disediakan untuk menjawab atau menyelesaikan seluruh materi tes ini relatif singkat dibandingkan dengan tes lainnya, sebab yang lebih diutamakan adalah waktu yang minimal dan dapat mengerjakan tes itu sebanyak-banyaknya dengan baik dan benar, cepat dan tepat penyelesaiannya.Tes yang termasuk kategori tes kecepatan misalnya tes intelegensi, dan tes ketrampilan bongkar pasang suatu alat.

b).Tes Kemampuan (Power Test)

Tes ini bertujuan untuk mengevaluasi peserta tes dalam mengungkapkan kemampuannya (dalam bidang tertentu) dengan tidak dibatasi secara ketat oleh waktu yang disediakan. Kemampuan yang dievaluasi bisa berupa kognitif maupun psikomotorik. Soal-soal biasanya relatif sukar menyangkut berbagai konsep dan pemecahan masalah dan menuntut peserta tes untuk mencurahkan segala kemampuannya baik analisis, sintesis dan evaluasi.

c).Tes Hasil Belajar (Achievement Test)

Tes ini dimaksudkan untuk mengevaluasi hal yang telah diperoleh dalam suatu kegiatan. Tes Hasil Belajar (THB), baik itu tes harian (formatif) maupun tes akhir semester (sumatif) bertujuan untuk mengevaluasi hasil belajar setelah mengikuti kegiatan pembelajaran dalam suatu kurun waktu tertentu. Makalah ini akan lebih banyak memberikan penekanan pada tes hasil belajar ini.

d).Tes Kemajuan Belajar ( Gains/Achievement Test)

Tes kemajuan belajar disebut juga dengan tes perolehan adalah tes untuk mengetahui kondisi awal testi sebelum pembelajaran dan kondisi akhir testi setelah pembelajaran. Untuk mengetahui kondisi awal testi digunakan pre-tes dan kondisi akhir testi digunakan post-tes.

e).Tes Diagnostik (Diagnostic Test)

Tes diagnostik adalah tes yang dilaksanakan untuk mendiagnosis atau mengidentifikasi kesukaran-kesukaran dalam belajar, mendeteksi faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kesukaran belajar, dan menetapkan cara mengatasi kesukaran atau kesulitan belajar tersebut.

f).Tes Formatif

Tes formatif adalah penggunaan tes hasil belajar untuk mengetahui sejauh mana kemajuan belajar yang telah dicapai oleh siswa dalam suatu program pembelajaran tertentu.

g).Tes Sumatif

Istilah sumatif berasal dari kata “sum” yang berarti jumlah. Dengan demikian tes sumatif berarti tes yang ditujukan untuk mengetahui penguasaan siswa dalam sekumpulan materi pelajaran (pokok bahasan) yang telah dipelajari.

3).Bentuk Tes

Dilihat dari jawaban siswa yang dituntut dalam menjawab atau memecahkan persoalan yang dihadapinya, maka tes hasil belajar dapat dibagi menjadi 3 jenis :

a).Tes lisan (oral test)

b).Tes tertulis (written test)

c).Tes tindakan atau perbuatan (performance test)

Penggunaan setiap jenis tes tersebut seyogyanya disesuaikan dengan kawasan (domain) perilaku siswa yang hendak diukur. Misalnya tes tertulis atau tes lisan dapat digunakan untuk mengukur kawasan kognitif, sedangkan kawasan psikomotorik cocok dan tepat apabila diukur dengan tes tindakan, dan kawasan afektif biasanya diukur dengan skala perilaku, seperti skala sikap.

1. Bentuk Soal Pilihan Ganda

Keunggulan dari bentuk soal pilihan ganda ini, antara lain adalah sebagai berikut:

a).Pensekoran mudah, cepat, serta objektif

b).Dapat mencakup ruang lingkup bahan/materi yang luas

c).Mampu mengungkap tingkat kognitif rendah sampai tinggi.

Sementara, selain memilliki keunggulan, soal pilihan ganda juga memiliki kelemahan, antara lain adalah sebagai berikut:

a).Menuliskan soalnya relatif lebih sulit dan lama

b).Memberi peluang siswa untuk menebak jawaban

c).Kurang mampu meningkatkan daya nalar siswa.

2. Bentuk Soal Uraian

Keunggulan dari bentuk soal uraian ini, antara lain adalah sebagai berikut:

a).dapat mengukur kemampuan mengorganisasikan pikiran,

b).menganalisis masalah, dan mengemukakan gagasan secara rinci

c).relatif mudah dan cepat menuliskan soalnya

d).mengurangi faktor menebak dalam menjawab

Sementara, selain memiliki keunggulan, soal uraian juga memiliki kelemahan, antara lain adalah sebagai berikut:

a).jumlah materi (PB/SPB) yang dapat diungkap terbatas

b).Pengoreksian/scoring lebih sukar dan subjektif

c).tingkat reliabilitas soal relaitf lebih rendah

4).Ciri-ciri Tes yang Baik

Sebuah test dapat dikatakan baik sebagai alat pengukur harus memenuhi kriteria, yaitu memiliki validitas, reliabilitas, objektivitas, praktikabilitas dan ekonomis

a).Validitas

Sebuah alat pengukur dapat dikatakan valid apabila alat pengukur tersebut dapat mengukur apa yang hendak diukur secara tepat. Demikian pula dalam alat-alat evaluasi. Suatu tes dapat dikatakan memiliki validitas yang tinggiapabila tes itu tersebut betul-betul dapat mengukur hasil belajar. Jadi bukan sekedar mengukur daya ingatan atau kemampuan bahasa saja misalnya.

Untuk lebih mendukung memahami pengertian tersebut selanjutnya akan diuraikan beberapa macam kriteria validitas, yaitu:

1).Content validity (validitas isi)

Pengujian jenis validitas ini dilakukan secara logis dan rasional karena itu disebut juga rational validity atau logical validity.Batasan content validity ini menggambarkan sejauh mana tes mampu mengukur materi pelajaran yang telah diberikan secara representatif dan sejauh mana pula tes dapat mengukur sampel yang representatif dari perubahan-perubahan perilaku yang diharapkan terjadi pada diri siswa. Dengan demikian suatu tes hasil belajar disebut memiliki validitas tinggi secara content, bila tes tersebut sudah dapat mengukur sampel yang representatif dari materi pelajaran (subject matter) yang diberikan, dan perubahan-perubahan perilaku (behavioral changes) yang diharapkan terjadi pada diri siswa. Misalnya apabila kita ingin memberikan tes bahasa inggris untuk kelas II, maka item-itemnya harus diambil dari bahan pelajaran kelas II. Kalau diambilnya dari kelas III maka tes itu tidak valid lagi.

2).Predictive validity (validitas ramalan)

Validitas ramalan artinya ketepatan (kejituan) suatu alat pengukur ditunjau dari kemampuan tes tersebut untuk meramalkan prestasi yang dicapainya kemudian. Suatu tes hasilbelajar dapat dikatakan mempunyai validitas ramlan yang tinggi, apabila hasil yang dicapai siswa dalam tes tersebut betul-betul meramalakan sukses tidaknya siswa tersebut dakam pelajaran-pelajaran yang akan datang. Cara yang digunakan untuk mengukur tinggi rendahnya validitas ramalan ialah dengan mencari korelasi antara nilai-nilsi yang dicapai oleh anak-anak dalam tes tersebut dengan nilai-nilai yang dicapai kemudian.

3).Concurent validity (Validitas bandingan)

Kejituan suatu tes dilihat dari korelasinya terhadap kecakapan yang telahdimilikisaat kini secara riil. Cara yang digunakan untuk menilai validitas bandingan ialah dengan jalan mengkorelasikan hasil-hasil yang dicapai dalam tes tersebut dengan hasil-hasil yang dicapai dalam tes yang sejenis yang telah diketahui mempunyai validitas yang tinggi (misalnya tes standar).

4).Construct Validity (validitas konstruk/susunan teori)

Yaitu ketepatan suatu tes ditinjau dari susunan tes tersebut. Misalnya kalau kita ingin memberikan tes kecakapan ilmu pasti, kita harus membuat soal yang ringkas dan jelas yang benar-benar akan mengukur kecakapan ilmu pasti, bukan mengukur kemampuan bahasa karena soal itu ditulis secara berkepanjangan dengan bahasa yang sulit dimengerti.

b).Reliabilitas

Reliabilitas berasal dari kata reliable yang berarti dapat dipercaya. Reliabilitas suatu tes menunjukan atau merupakan sederajat ketetapan, keterandalan atau kemantapan (the level of consistency) tes yang bersangkutan dalam mendapatkan data (skor) yang dicapai seseorang, apabila tes tersebut diberikan kepadanya pada kesempatan (waktu) yang berbeda., atau dengan tes yang pararel (eukivalen) pada waktu yang sama. Atau dengan kata lain sebuah tes dikatakan reliable apabila hasil-hasil tes tersebut menunjukan ketetapan, keajegan, atau konsisten. Artinya, jika kepada para siswa diberikan tes yang sama pada waktu yang berlainan, maka setiap siswa akan tetap berada dalam urutan (ranking) yang sama dalam kelompoknya. Contoh

Waktu tes

Nama siswa

Pengetesan

pertama

Pengetesan

Kedua

Ranking

Andi

6

7

3.a

Budi

5.5

6.6

4

Cici

8

9

1

Didi

5

6

5

Evi

6

7

3.b

Fifi

7

8

2

Ada beberapa cara untuk mencari reliabilitas suatu tes, antara lain :

1).Teknik Berulang

Tehnik ini adalahdengan memberikan tes tersebut kepada sekelompok anak-anak dalam dua kesempatan yang berlainan. misalnya suatu tes diberikan pada kepada group A. selang 3 hari atau seminggu tes tes tersebut diberikan lagi kepada group A dengan syarat-syarat tertentu.

2).TeknikBentuk Paralel

Teknik ini dipergunakan dua buah tes yang sejenis (tetapi tidak identik), mengenai isinya; proses mental yang diukur, tingkat kesukaran jumlah item dan aspek-aspek lain.

3).Teknik belah dua

Ada dua prosedur yang dapat digunakan dalam tes belah dua ini yaitu :

Prosedur ganjil-genap, artinya seluruh item yang bernomor ganjil dikumpulkan menjadi satu kelompok dan yang bernomor genap menjadi kelompok yang lain.

Prosedur secara random, misalnya dengan jalan lotre, atau dengan jalan menggunakan tabel bilangan random.

a).Objektivitas

Sebuah tes dikatakan memiliki objektivitas apabila dalam melaksanakan tes itu tidak ada faktor subyektif yang mempengaruhi. Hal ini terutama pada sistem skoringnya, apabila dikaitkan dengan reliabilitas maka obyektivitas menekankan ketetapan pada sistem skoring, sedangkan reliabilitas menekankan ketetapan dalam hasil tes. Ada dua faktor yang mempengaruhi subjektivitas dari sesuatu tes yaitu bentuk tes dan penilaian.

b).Praktikabilitas

Sebuah tes dikatakan memiliki praktikabilitas yang tinggi apabila tes itu bersifat praktis, mudah untuk pengadministrasiannya. Tes yang praktis adalah tes yang:

1).Mudah dilaksanakannya; misalnya tidak menuntut peralatan yang banyak dan memberi kebebasan kepada siswa untuk mengerjakan terlebih dahulu bagian yang dianggap mudah oleh siswa.

2).Mudah memeriksanya artinya bahwa tes itu dilengkapi dengan kunci jawaban maupun pedoman skoringnya. Untuk soal yang obyektif, pemeriksaan akan lebih mudah dilakukan jika dikerjakan oleh siswa dalam lembar jawaban.

3).Dilengkapi dengan petunjuk-petunjuk yang jelas sehingga dapat diberikan/ diawali oleh orang lain

c).Ekonomis

Yang dimaksud dengan ekonomis ialah bahwa pelaksanaan tes tersebut tidak membutuhkan ongkos/biaya yang mahal, tenaga yang banyak danwaktu yang lama, baik untuk memproduksinya maupun untuk melaksanakan dan mengolah hasilnya.

Dengan mempertimbangkan kriteria-kriteriates tersebut, sewajarnya dapat dihasilkan alat tes (sosal-soal) yang berkualitas yang memenuhi syarat-syarat dibawah ini :

1).Shahih (valid), yaitu mengukur yang harus diukur, sesuai dengan tujuan

2).Relevan, dalam arti yang diuji sesuai dengan tujuan yang diinginkan

3).Spesifik, soal yang hanya dapat dijawab oleh peserta didik yang betul-betul belajar dengan rajin

4).Tidak mengandung ketaksaan (tafsiran ganda). harus ada patokan; tugas ditulis konkret. Apa yang harus diminta; harus dijawab berapa lengkap

5).Representatif, soal mewakili materi ajar secara keseluruhan

6).Seimbang, dalam arti pokok-pokok yang penting diwakili, dan yang tidak penting tidak selalu perlu.

1).Teknik Nontes

Teknik nontes sangat penting dalam mengevaluasi siswa pada ranah afektif dan psikomotor, berbeda dengan teknik tes yang lebih menekankan asfek kognitif. Ada beberapa macam teknik nontes, yakni: pengamatan (observation), wawancara (interview), kuesioner/angket (questionanaire), dan analisis dokumen yang bersifat unobtrusive.

a. Observasi

Contoh Pedoman Observasi

Mata Pelajaran: Biologi

Konsep/Subkonsep: 1.1 Vegetatif Buatan

1.1.1. Mencangkok

Kelas: IMA

Hari/tanggal: Ahad, 11 September 2004

Jampel ke-: 1

Nama Siswa: Ali

NO

KEGIATAN/ASPEK YANG DINILAI

NILAI

KET

1

Langkah persiapan (penyiapan alat dan bahan)

….

2

Cara mengelupas kulit bagian luar

….

3

Cara mengelupas kulit bagian dalam

….

4

Cara membersihkan getah/lendir

….

5

Cara menaburkan tanah

….

6

Cara membungkus dan mengikat

….

Jumlah

….

Rata-rata

….

Catatan: >> Pemberian nilai dapat menggunakan angka 1 – 10atau A, B, C, D

Contoh observasi dengan check-list

Mengungkap perilaku/sikap siswa dalam mengikuti pelajaran Biologi

Nama Siswa: Ali

Kelas: II

No

Kegiatan/

Aspek yang dinilai

SL

selalu

Sr

sering

Kd

kadang

TP

tdkprnh

1

Hadir tepat waktu

V

2

Rapi dalam berpakaian

V

3

Hormat kepada guru

V

4

Suka mengganggu teman

V

5

Mngerjakan PR di sekolah

V

Rekap Penilaian

b. Wawancara(Interview)

Contoh Pedoman Wawancara

1. Wawancara Terbimbing (guided interview)

Nama Siswa:

Kelas:

Hari/ Tangal:

Pokok Pembicaraan:

Mengungkap kebiasaan di rumah dan penggunaan waktu luang siswa

  1. Apa yang kamu lakukan sepulang sekolah sampai menjelang tidur?
  2. Apakah kamu suka olahraga, jenis olahraga apa? Adakah jadwal khusus untuk olahraga?
  3. Dalam sepekan berapa kali kamu belajar kelompok? Mata pelajaran apa yang paling sering dibahas bersama?
  4. Adakah kelompok belajar di tempat tinggalmu? Bagaimana peran kamu dalam kelompok tersebut?
  5. Kapan dan bagaimana cara kamu belajar di rumah?

2. Wawancara bebas (unguided interview)

Nama Siswa:

Kelas:

Hari/Tgl:

Pokok Pembicaraan:

Mengungkap tanggapan siswa terhadap kebijakan kepala madrasah tentang Kegiatan Tadabur Alam

(siswa diberikan pertanyaan-pertanyaan yang dapat dikembangkan lebih jauh atas dasar jawaban sebelumnya, sampai diperoleh kesimpulan yang jelas atau dibatasi waktu)

c. Kuesioner (Questionaire)

Contoh penggunaan kuesioner

Nama Siswa:

  1. Pada waktu melihat sampah bertebaran di jalan, saya berusaha untuk membuang ke tempat sampah:

a.sangat sering

b.sering

c.kadang-kadang

d.jarang

e.tidak pernah

  1. Saya mengerjakan PR setelah teman-teman mengerjakan:

a.selalu

b.sering

c.kadang-kadang

d.jarang

e.tidak pernah

  1. Adam berkata kepada temannya: “Kalau tidak ada PR kita tidak perlu belajar”. Terhadap pernyataan Adam tersebut, saya:

a. sangat setuju

b. setuju

c. ragu-ragu

d. tidak setuju

e. sangat tidak setuju

A.Ringkasan

Atas dasar pemaparan dan pembahasan tentang evaluasi pembelajaran di atas, maka dapat disimpulkan beberapa kajian dan pembahasan yang esensial dari bab ini, yakni sebagai berikut:

1).Dalam konteks penilaian ada beberapa istilah yang digunakan, yakni pengukuran, assessment dan evaluasi

2).Evaluasi merupakan salah satu kegiatan utama yang harus dilakukan oleh seorang guru dalam kegiatan pembelajaran. Dengan penilaian, guruakan mengetahui perkembangan hasil belajar, intelegensi, bakat khusus, minat, hubungan sosial, sikap dan kepribadian siswa atau peserta didik

3).Evaluasi memiliki beberapa tujuan, antara lain (a) untuk mengetahui kemajuan belajar siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran dalam jangka waktu tertentu, (b) untuk mengetahui efektivitas metode pembelajaran yang digunakan, (c) untuk mengetahui kedudukan siswa dalam kelompoknya, dan (d) untuk memperoleh masukan atau umpan balik bagi guru dan siswa dalam rangka perbaikan.

4).Penilaian Berbasis Kelas (PBK) merupakan suatu proses pengumpulan, pelaporan, dan penggunaan informasi tentang hasil belajar siswa dengan menerapkan prinsip-prinsip penilaian berkelanjutan, otentik, akurat, dan konsisten dalam kegiatan pembelajaran di bawah kewenangan guru di kelas

5).Pelaksanaan evaluasi pembelajaran dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai alat evaluasi, antara lain, kuesioner, tes, skala, format observasi, dan lain-lain. Dari sekian banyak alat evaluasi, secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua, yakni alat tes dan nontes

B.Pertanyaan Diskusi

Untuk mengkaji lebih lanjut terkait dengan pembahasan tentang evaluasi pembelajaran ini, maka ada beberapa hal yang bisa didiskusikan di kelas, yakni sebagai berikut:

Diskusikan dengan teman-teman Anda di kelas!

1).Apa yang dimaksud dengan evaluasi, assesmen dan pengukuran dalam konteks penilaian pembelajaran?

2).Apakah tujuan diberlakukannya evaluasi dalam pembelajaran?

3).Apa yang dimaksud dengan Penilaian Berbasis Kelas?

4).Bagaimana teknis pelaksanaan Penilaian Berbasis Kelas?

5).Bagiamanakah tahapan-tahapan pelaksanaan evaluasi dalam proses pembelajaran

Jelaskan model tes yang digunakan dalam proses pembelajaran

« KEGIATAN PEMBELAJARAN DAN PEMILIHAN MEDIA PEMBELAJARAN PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN Y

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Karya Ilmiah

Contoh Makalah

PENILAIAN HASIL BELAJAR

1. Pengertian

Penilaian kelas adalah suatu proses pemberian pertimbangan atau harga atau nilai berdasarkan kriteria-kriteria tertentu. Kriteria-krtiteria tersebut telah disusun sedemikian rupa dengan memakai alat ukur sesuai dengan apa yang akan dinilai.

2. Tujuan Penilaian

Tujuan penilaian di kelas oleh ustazd hendaknya diarahkan minimal memiliki 4 tujuan sebagai berikut ( Chittenden ; 1991 )

a. Untuk Bahan Penelusuran yaitu untuk menelusuri agar proses pembelajaran kepada para santri tetap sesuai dengan rencana yang telah ditentukan, sehingga dapat tergambar proses pencapaian kompetensi oleh santri.

b. Untuk Bahan Pengecekan yaitu untuk mengecek apakah kelemahan dan kelebihan yang dialami para santri dalam proses pembelajaran, sehingga dapat diketahui apa yang telah dan yang belum dikuasai oleh siswa .

c. Untuk Bahan Pencarian yaitu untuk mencari dan menemukan hal-hal yang menyebabkan terjadinya kelemahan dan kesalahan dalam proses pembelajaran. Dalam hal ini guru harus selalu menganalisis dan merefleksikan hasil penilaian kelas dan mencari hal-hal yang menyebabkan proses belajar mengajar tidak berjalan secara efektif.

d. Untuk Bahan Penyimpulan yaitu menyimpulkan apakah anak didik telah menguasai seluruh kompetensi yang telah ditetapkan kurikulum atau belum. Penyimpulan ini sangat penting dilakukan untuk dijadikan bahan laporan kepada pihak orang tua santri, pihak sekolah atau pihak lain yang memerlukan.

3. Fungsi Penilaian

Penilaian kelas yang telah disusun secara terencana dan sistematis oleh ustadz memili fungsi diantaranya :

a. Fungsi Motivasi yaitu penilaian yang dilakukan oleh ustadz di kelas dapat mendorong atau memotivasi santri untuk belajar. Seperti Latihan, tugas atau ulangan harian dan sebagainya.

b. Fungsi belajar tuntas yaitu penilaian di kelas harus diarahkan untuk memantau ketuntasan belajar siswa. Hal yang harus tertanam dalam diri seorang ustadz apakah para santri sudah menguasai kemampuan yang diharapkan atau belum ? Tindakan apa yang harus dilakukan agar santri akhirnya menguasai kompetensi tersebut ?

c. Fungsi sebagai Indikator Efektivitas Pembelajaran yaitu penilaian kelas dapat digunakan untuk melihat sejauh mana keberhasilan proses belajar mengajar .Kita mengatahui bahwa keberhasilan dalam proses belajar mengajaran tidak hanya melihat sisi kemampuan siswa juga mungkin saja kemampuan kita dalam pembelajaran. Dan untuk mengetahui hasil pembelajaran kita bisa melaksanakan penilaian baik jangka pendek ( Formatif ) atau beberapa periode pengajaran ( Sumatif ).

Tujuan penilaian formatif bukan untuk menentukan hasil bejar santri tetapi untuk perbaikan dalam proses pembejaran, sedangkan penilaian sumatif tujuan utamanya untuk menetapkan keberhasilan santri dalam penguasaan kompetensi.

4. Prinsip Penilaian Kelas

Agar proses penilaian dapat memeuhi tujuan dan fungsi, perlu diperhatikan prinsip-prinsip penilaian sebagaimana berikut ini :

a. Penilaian harus mengacu kepada Kemampuan. Materi yang tercakup dalam penilaian kelas harus terkait secara langsung dengan indikator pencapaian kompetensi , serta disesuaikan dengan tahapan materi yang telah diajarkan.

b. Penilaian harus berkelanjutan yaitu adanya kontinuitas dari pelaksanaan penilaian kelas tidak hanya satu kali saja, sehingga analisa hasil penilaian dapat merupakan data yang valid.

c. Penilaian harus Didaktis yaitu penilaian harus memiliki rancangan yang baik , meliputi isi, format, tata letak, tampilan agar santri senang menikmati kegiatan penilaian.

d. Penilaian harus menggali informasi yaitu harus dapat memberikan informasi yang cukup bagi ustadz untuk mengambil keputusan dan umpan balik, sehingga metoda, teknik dan alat penilaian dapat dibuat dengan baik.

e. Penilaian harus dapat melihat yang benar dan yang salah. Dalam hal ini seorang ustadz hendaknya melakukan analisis terhadap hasil penilaian dan kerja santri secara seksama untuk dapat melihat kesalahan umum yang terjadi pada santri sekaligus hal-hal yang positif yang ada pada santri.

5. Sasaran atau Objek Penilaian

Untuk memudahkan seorang ustadz menyusun alat evaluasi , maka perlu disusun sasaran pokok dari kegiatan penilaian, yaitu :

a. Tingkah laku santri yang meliputi : Sikap, minat, perhatian , keterampilan dan lain-lain.

b. Isi pendidikan yakni penguasaan bahan pelajaran yang diberikan ustadz

c. Proses pembelajaran itu sendiri

6. Jenis dan Alat Penilaian

Setelah sasaran pokok pokok sudah ditentukan, maka langkah selanjutnya adalah menetapkan alat penilaian yang pada umumnya dibedakan menjadi :

a. Tes ( Lisan , Tulisan atau Tindakan )

Tes adalah himpunan petanyaan yang harus dijawab, atau pernyataan – pernyataan yang harus dipilih / ditanggapi, atau tugas-tugas yang harus dilakukan oleh orang yang dites dengan tujuan untuk mengukur suatu aspek ( perilaku ) tertentu dari orang yang dites.

Tes lisan adalah kegiatan tes dimana soal dan jawaban yang diberikan santri dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan lisan.

Tes tertulis adalah tes dimana soal dan jawaban yang diberikan kepada santri dalam bentuk bahan tulisan.

Tes tindakan adalah tes dimana soal yang diberikan kepada para santri yang jawabananya memerlukan tindakan.

b. Non Tes ( Observasi, wawancara, studi kasus, dll )

Observasi yaitu salah satu bentuk tes berupa pengamatan baik tingkah laku santri atau kemampuan santri.

Wawancara yaitu memberikan beberapa pertanyaan yang perlu dijawab secara langsung.

Studi Kasus yaitu mempelajari kejadian-kejadian yang dialami oleh santri.

7. Syarat-Syarat Menyusun Alat Penilaian

a. Tetapkan terlebih dahulu faktor apa yang akan dinilai

b. Tetapkan alat penilaian yang akan dipakai serta harus valid dan reliable ( Ketepatan dan ketetapan )

c. Pelaksanaan penilaian harus objektif artinya apa adanya tanpa ada rekayasa dalam penilaian.

d. Hasil penilaian yang diperoleh perlu ditindak lanjuti dengan kegiatan analisis hasil test.

e. Hendaknya mengandung unsur diagnosa yaitu untuk mengetahui kelemahan ustadz dalam pembelajaran dan siswa dalam belajar.

Selain syarat-syarat diatas perlu diperhatikan pula hal-hal dalam pelaksanaan penilaian yaitu :

1. Penilaian dilaksanakan secara kontinu

2. Dilaksanakan dalam tiga tahap ( pre tes, mid test dan post tes)

3. Tidak terfokus hanya dalam kelas saja tapi bisa juga dilaksanakan di luar kelas.

4. Selain tes bisa juga dengan non tes.

8. Menyusun Alat Penilaian

a. Tes Uraian ( Essay ) : Santri diminta untuk menjawab pertanyaan dengan uraian atau penjelasan dengan menggunakan kata-kata sendiri. Tes ini bisa dalam bentuk uraian bebas, dimana santri diminta menjawab dengan kata-kata sendiri maupun uraian terbatas yang menghendaki jawaban pasti.

b. Tes Objektif : Santri diminta untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan point-point jawaban telah disediakan oleh ustadz. Bentuk tes ini bisa berupa :

i) Benar atau salah

ii) Multiple Chois ( Pilihan ganda )

iii) Menjodohkan

iv) Tipe melengkapi yaitu berupa serangkaian kalimat dengan kalimat yang penting ditiadakan dan siswa diminta untuk mengisi kalimat yang ditiadakan tersebut .

9. Jenis-jenis pertanyaan yang dipakai

a. Berdasarkan maksudnya ( Pertanyaan permintaan, retorik, mengarahkan atau menuntun dan yang sifatnya menggali )

i) Contoh pertanyaan permintaan : Coba dapatkan kalian duduk dengan tenang, sehingga suara ibu dapat didengar oleh kalian ?

ii) Contoh pertanyaan retorik : Disini guru menjawab pertanyaan yang diajukannya sendiri : Tahukan kalian apa itu huruf syafawiyah ? Huruf syafawiyah itu adalah …………….( dijawab sendiri )

iii) Contoh pertanyaan mengarahkan : Pada pertemuan minggu yang lalu kita telah membicarakan sejarah Nabi Musa a.s. Coba Andi siapakah yang menjadi musuh utama Nabi Musa itu ?

iv) Contoh pertanyaan menggali : Setelah kita melihat karya- karya kalighrafi pada hari kemarin , bagaimana pendapatmu dari karya-karya tersebut ?

b. Menurut Taksonomi Bloom

i) Pertanyaan pengetahuan ( C1 ) yaitu pertanyaan yang mengharapkan jawaban yang sifatnya hafalan . Contoh : Siapak Ibu dari Nabi Muhammad s.a.w. ?

ii) Pertanyaan pemahaman ( C 2 ) yaitu pertanyaan dimana santri menjawab dengan kata-kata sendiri dari pengetahuan yang telah dikuasai. Contoh : Jelaskan mengapa pada waktu pertama kali Nabi berdakwah orang-orang kuraisy menolak ajaran Nabi ?

iii) Pertanyaan Penerapan ( C3 ) yaitu pertanyaan yang menghendaki jawaban tunggal dengan cara mengolah pengetahuan, iformasi, aturan-aturan, criteria-kriteriadn lain-lain yang pernah diterimanya. Contoh : Dari jenis-jenis huruf yang telah dibacakan tadi, manakah yang termasuk huruf Khalqiyyah ?

iv) Pertanyaan analisis ( C4 ) yaitu pertanyaan yang menuntut santri untuk menemukan jawaban dengan cara mengidentifikasi motif, mencari bukti-bukti dan menarik kesimpulan.

Mengidentifikasi motif , Contoh : Coba lihat tulisan huruf di papan tulis ini ! Dimana letak perbedaan penulisan huruf Bad dan Ta ?

Mencari bukti-bukti , Contoh : Pada saat Nabi Muhammad berdakwah di Makkah banyak kaum Quraisy yang menolak dakwah Nabi tersebut. Coba, dapatkan Susi menunjukan bukti-buktinya ?

Menarik kesimpulan , Contoh : Setelah kita mempelajari Perang Khandaq, buatlah kesimpulan mengapa pada waktu itu Kaum Muslimin terdesak ?

v) Pertanyaan sitesis ( C5 ) yaitu pertanyaan yang menghendaki jawaban bervariatif ( tidak tunggal ) dan daya kreasi yang telah dia miliki. Jenis pertanyaan ini dapat menuntut santri untuk :

· Bisa membuat ramalan atau prediksi :Contoh : Menurut pendapat kamu, apa yang akan terjadi apabila umat Islam berpecah belah ?

· Memecahkan masalah dengan imajinasinya : Contoh : Bayangkan seolah-olah anda sedang shalat berjamaah. Jika Imam yang ada lupa dalam salah satu rukun shalat, apa yang akan anda lakukan ?

· Mencari komunikasi : Contoh : Susunlah karangan pendek yang menggambarkan sikap yang dimiliki seorang muslim dalam rangka memperkokoh rasa persaudaraan sesame muslim !

vi) Pertanyaan evaluasi ( C6 ) yaitu pertanyaan yang menhendaki santri untuk menjawab dengan cara memberikan penilaian atau pendapatnya terhadap suatu masalah yang ditampilkan . Contoh : Menurut pendapat kamu, manakah yang lebih baik untuk belajar dirumah, sore hari atau malam hari ? Berikan penjelasan !

c. Menurut Tingkat Kesukaran

i) Pertanyaan mudah

ii) Pertanyaan sedang

iii) Pertanyaan sukar

Sebagai catatan : Untuk menentukan apakah suatu soal dianggap mudah, sedang atau sukar kita harus melaksanakan analisa terlebih dahulu dari hasil tes yang dikerjakan oleh santri.

10. Teknis pengisian kisi-kisi soal

Supaya kita dapat menyusun soal dengan baik, terarah dan terukur maka persiapan yang harus dilakukan adalah menyusun kisi-kisi ( batasan-batasan ) dari soal tersebut .

a. Judul : Isi dengan mata pelajaran apa yang akan dibutkan soalnya, Kelas atau tingkat berapa, semester, tahun pelajaran dan waktu yang diperlukan untuk menjawab soal tersebut.

b. Standar Kompetensi / Kompetensi dasar : Diisi dengan melihat GBPP sesuai dengan pelajaran yang akan di tes kan.

c. Materi pembelajaran : Diisi dengan Bahasan dan sub bahasan .

d. Jumlah soal diisi dengan berapa soal yang akan dibuat untuk setiap indikator

e. Indikator diisi dengan bahan-bahan pertanyaan yang akan dijadikan tolok ukur, seperti : menyebutkan, menjelaskan, membandingkan, membedakan, mengemukakan, mengerjakan dan sebagainya.

f. Nomor soal diisi dengan nomor soal ke berapa dari indikator tersebut .

g. Aspek yang diukur disesuaikan dengan memperhatikan ( C1,C2,C3,C4,C5 atau C6 ) jika memungkinkan, dan jika tidak cukup sampai C3 saja.

h. Tentukan prosentase aspek yang diukur bisa C1 = 30 % , C2 = 50 % , C3 = 20 %, atau sesuaikan dengan kebutuhan.

i. Contoh kisi-kisi lihat lampiran .

11. Teknik Analisa Hasil Test

Daya pembeda dan tingkat kesukaran soal piliha ganda akan menentukan tinggi rendahnya kualitas soal yang dibuat. Daya pembeda dan tingkat kesukaran dapat dihitung melalui perhitungan koefisien korelasi anatara jawaban yang benar dari kelompok atas ( A ) dan jawaban yang benar dari kelompok bawah ( B ). Teknik ini dapat dilakuikan dengan langkah-langkah sebagai berikut :

a. Setelah lembar jawaban diperiksa, susunlah lembar jawaban tersebut dari yang memiliki skor hasil tertinggi sampai skor terendah.

b. Kelompokan lembar jawaban tersebut kedalam 3 kelompok, yaitu :

i) 27 % dari kelopok atas ( yang memiliki nilai besar )

ii) 27 % dari kelompok bawah ( yang memiliki nilai kecil )

iii) Sisanya disihkan.

c. Masukan jawaban yang benar dari kelompok atas untuk tiap butir soal ke dalam baris BA dan jawaban yang benar dari kelompok bawah ke kolom BB, selanjutnya hitungkah indeks Daya Pembeda ( DP ) dan Tingkat Kesukaran ( TK ).

Indeks DP = 2( BA - BB )/n n = jumlah kelomok bawah dan kelompok atas.

Indeks TK = ( BA + BB )/n

d. Tetapkan kualifikasi pokok uji untuk :

i) Kualifikasi daya pembeda

0,40 ke atas = baik

0,21 s.d. 0.39 = kurang baik

0, 20 kebawah = jelek

ii) Kualifikasi Tingkat Kesukaran

0,29 kebawah = sukar

0,30 s.d. 0,69 = sedang

0, 70 ke atas = mudah

e. Dari hasil perhitungan Daya Pembeda dan Tingkat Kesukaran kita harus menyimpulkannya supaya soal yang kita buat kualifikasinya dapat diketahui.

i) Untuk Daya Pembeda

(1) Soal yang memiliki kualifikasi baik dapat dipaki

(2) Soal yang memiliki kualifikasi kurang baik dapat dipakai tetapi direvisi terlebih dahulu

(3) Soal yang memiliki kualifikasi jelek dibuang saja atau tidak dipakai lagi.

ii) Untuk Tingkat Kesukaran

(1) 0,29 kebawah soal tersebut dikatagorikan sukar

(2) 0,70 keatas soal tersebut dikatagorikan mudal

(3) Sisanya adalah soal sedang

12. Contoh Analisa Butir Soal.

a. Pada satu kelas TPA paket A jumlah santri yang mengikuti tes sebanyak 30 santri. Urutkankanlah hasil pekerjaan santri dari yang memiliki nilai tertinggi sampai nilai terendah.

b. Kelompokan lembar jawab tersbut kedalam dua kelompok : Kelompok atas yaitu 27 % dari 30 santri = 8,1 dibulatkan 8 orang. Pisahkan yang memiliki nilai tertinggi 8 orang secara berurutan.

Dan untuk kelompok 27 % dari 30 santri = 8,1 orang dibulatkan 8 orang , pisahkan 8

orang yang memiliki nilai terandah dari bawah.Sisanya 14 orang disimpan saja .Jumlah

kelompok atas dan kelompok bawah ( 8 + 8 ) = 16 orang ( n ).

c. Masukan data jawaban yang benar untuk tiap nomor soal dari kelompok atas dan kelompok bawah kedalam format analisis butir soal.

d. Contoh : Untuk kelompok atas yang menjawab benar untuk soal no. 1 sebanyak 6 orang, dan untuk kelompok bawah yang menjawab benar untuk soal no.1 sebanyak 2 orang. Maka :

Daya Pembeda ( DP ) = 2 ( BA – BB )/n = 2 ( 6 – 2 )/16 = 0,5.

Tingkat Kesukaran ( TK ) = ( BA + BB ) / n = ( 6 + 2 )/ 16 = 0,5.

e. Tetapkan kualifikasi pokok uji dari hasil pengolahan .

i) Untuk soal nomor 1 memiliki nilai Daya Pembeda ( DP ) = 0,5 , berarti soal tersebut memiliki kualifikasi kurang baik/ direvisi.

ii) Untuk soal nomor 1 memiliki nilai tingkat kesukaran ( TK ) = 0,5, berarti soal tersbut memiliki kualifikasi sedang.

f. Membuat kesimpulan.

Dari hasil perhitungan yang telah dilakaukan maka untuk soal nomor 1 :

i) Ditinjau dari segi Daya Pembeda (DP) berkualifikasi Kurang baik atau perlu direvisi.

ii) Ditinjau dari segi Tingkat Kesukaran (TK) berkualifikasi sedang.

iii) Bearti soal tersebut dapat dipakai hanya perlu direvisi.

Format analisis butir soal lihat lampiran.


Beberapa Keterampilan Dasar Yang Perlu Dimiliki Oleh Seorang Ustadz

Untuk supaya proses pembelajaran berjalan baik dan sesuai dengan apa yang akan dicapai, maka seorang ustadz atau ustadzah perlu memiliki bebera keterampilan dasar, yaitu keterampilan minimal yang perlu dimiliki sehingga siap untuk melaksanakan proses pembelajaran; Adapun keterampilan minimal yang perlu dimiliki diantaranya :

1. Keterampilan membuat perencanaan pembelajaran. Ketrampilan ini meliputi : Penyusunan program tahunan, perhitungan minggu efektif, program semester , dan rencana pembelajaran ( RPP ), alat penilaian dll.

2. Keterampilan dalam pengelolaan kelas. Keterampilan ini meliputi : Penguasaan kelas, menertibkan kelas, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.

3. Keterampilan dalam Penguasaan materi pembelajaran, yaitu terkuasainya bahan-bahan yang akan disampaikan dalam pembelajaran.

4. Keterampilan memberikan penguatan ( Reinforcement ) yaitu kemampuan memberikan penghargaan kepada santri untuk lebih memotivasi belajarnya sehingga terjadi perubahan kearah yang positif. Bentuk penguatan ini berupa :

a. Penguatan Verbal yaitu penghargaan berupa kata-kata seperti : bagus, baik , tepat atau hebat dll.

b. Penguatan Gestural yaitu yaitu penguatan berupa perubahan air muka , gerak wajah, gerakan tangan , senyum dll.

c. Penguatan dengan cara pendekatan , dimana Ustadz mendekati santri yang tulisannya bagus, menjawab pertanyaan dengan benar, atau duduk pada kelompok diskusi.

d. Penguatan dengan sentuhan seperti usapan kepala, menepuk pundak atau menggandeng tangan dll.

e. Penguatan dengan memberi kegiatan yang sifatnya menyenangkan, seperti menyuruh santri untuk membantu temannya bila dia telah selesai mengerjakan pekerjaannya lebih dahulu, atau disuruh memimpin suatu acara, dll.

5. Keterampiulan membuat pertanyaan . yaitu kemampuan untuk meminta respon dari pelajaran yang diberikan sesuai dengan aspek-aspek yang dikehendaki.

6. Kampilan membuat variasi , yaitu kemampuan untuk menemukan teknik atau kiat-kiat tertentu sehingga kebosanan atau kejenuhan dalam belajar dapat dihindari. Keterampilan ini dimaksudkan agar proses belajar santri menunjukan ketekunan, kantusiasan, ketulusan dan penuh perhatian.

7. Keterampilan membuka atau menutup pelajaran yaitu kemampuan untuk menciptakan suasana kesiapan mental santri dalam menerima pelajaran, dan atau kemampuan ustadz dalam mengakhiri pelajaran sehingga ada kesan dalam ingatan santri apa yang telah dipelajari.

Beberapa kiat dalam mengajar.

1. Tetapkan terlebih dahulu apa yang akan diajarkan hari ini dan materi apa yang akan diberikan.

2. Niatkan karena Allah semata agar menjadi ibadah

3. Tentukan apa yang hendak dicapai setelah proses pembelajaran

4. Tentukan teknik atau metoda yang akan dipakai dalam penyampaian informasi pelajaran kepada para santri, sesuaikan dengan materi dan keadaan.

5. Tetapkan alat penilaian untuk mengukur keberhasilan dan tingkat daya serap santri apakah dengan tes lisan, tulisan , sekala sikap, atau tindakan.

6. Setelah dilakukan penilaian , hasil penilaian tersebut diolah untuk dianalisa sehingga dapat diketahui pada hal apa terdapat kekurangan untuk yang akan datang diperbaiki.